9/03/2010

Sejarah Bali

SEJARAH
Prasejarah :
       Zaman prasejarah Bali ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang.
       Berkat penelitian dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia masa prasejarah di Bali semakin jelas. Pertama-tama diuraikan oleh Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp pada tahun 1906. Dia memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, desa Trunyan, Pura Bukit Penulisan. Dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba desa Tegallalang. Dilanjutkan lagi oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dalam buku yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Tahun 1963 ahli prasejarah Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali.
Berdasarkan penelitian diatas kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
         Awalnya diketahui dengan penelitian-penelitian tahun 1960 dengan ditemukannya alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani).
         Kehidupan penduduk pada masa ini sangat sederhana, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara ke daerah-daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup. Peburuan dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki sedangkan perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan ringan. Saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia sudah mengenal bahasa untuk berkomunikasi.
2. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
          Pada masa ini cara hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa..Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding goa , yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya.
3. Masa bercocok tanam
           Masa bercocok tanam lahir melalui proses dari masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan berubah menjadi menghasilkan makanan.
           Sisa-sisa kehidupan pada masa ini antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bangsa Austronesia mulai datang di kepulauan kita pada zaman neolithik (2000 tahun S.M). Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi dari dataran Asia melalui jalan barat dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan sistem tukar menukar barang atau barter. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.
4. Masa perundagian
          Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.

          Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting diantaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongolaid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka.
          Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap ditemukan di daerah ini.
          Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di desa Trunyan. Di Pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Temuan lainnya ialah di desa Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat. Dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Diantaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
           Bangunan-bangunan megalithik juga terdapat di desa Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.